Piknik di musim panas

Hi Pembaca, terimakasih sudah mampir ke blog ini.

Waktu terus berlalu, ga terasa sudah bulan Juli saja. Bagaimana keadaan tahun ini? Kalau aku sih lumayan banyak perubahan. Beberapa hal, rasanya ampas. Beberapa hal rasanya mantap.

Kenapa ampas? Awal tahun, 7 hari setelah lahiran, aku dikeluarin dari grup alumni. Aku dibilang mau kudeta oleh anggota boomer. Kenapa begitu? Karena bagi beberapa anggota, aku cerewet sekali dalam mempermasalahkan seorang koruptor jadi ketua alumni yang ga diganti ganti selama 10 tahun.

Selanjutnya, hasil kerjaan ku yang bejibun tahun lalu, diambil alih. Ampas lah.. ide yang dilahirkan malah diklaim sama orang lain.

Tapi dibalik hal-hal ampas itu, tahun ini aku dapat dua publikasi internasional di journal turunan Nature. Nanti dah kalau udah bisa akses, aku share di blog ini. Selain itu tentu saja aku senang, oma opa bisa berkunjung ke Jepang untuk bertemu baby Z.

Berhubung bulan ini sudah bulan Agustus, artinya musim panas sudah di depan mata. Hangatnya mentari sudah terasa semakin membakar. Tapi hikmah lain dari panasnya mentari, kita bisa merasakan munculnya angin sepoi sepoi ketika berada di area yang ada atap, ataupun yang terlindungi oleh pohon.

Wah ngomong- ngomong tentang pohon, di Kirishima, ternyata ada pohon kamper (bahan buat kapur barus) yang usinya sudah lebih dari 1500 tahun.

Pohon Kamper, Kagoshima, Jepang

Dua tahun lalu, aku sempat melakukan penelitan prototipe efek dari menghirup aroma air pohon kamper terhadap perubahan sinyal otak dan psikologi. Dari penelitian itu, aku menemukan pattern bahwa volatile dari aroma air pohon tersebut menginduksi gelombang alfa dan menunjukkan angka relaksasi lebih tinggi ketika dibandingkan tanpa menghirup aroma air tersebut.

Ya namanya penelitian prototipe, tentu saja perlu konfirmasi lebih lanjut.

Berhubung tahun ini aku cuti hamil dan melahirkan, tahun ini aku ga berkutat di lab, tapi di rumah. Merasakan bagaimana menjadi seorang istri dan ibu.

Aseeek.

Judul kali ini adalah piknik. Ya, kami baru saja melakukan piknik perdana. Angin sepoi-sepoi ditambah umaminya takoyaki dan pergedel, membuat makan siang terasa sahdu.

Piknik dengan pemandangan gunung Sakurajima

Sampai jumpa ditulisan selanjutnya

Leave a comment